Ketua RT 003 RW 007 Gunung Sari, Muchlis Kartala, memimpin program inovatif mengubah limbah sampah menjadi berkah bagi warga.
Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan, Ketua RT 003 RW 007 Gunung Sari, Muchlis Kartala, memimpin program terpadu. Program ini mengatasi limbah sekaligus mengubahnya menjadi berkah, menggabungkan bank sampah dan urban farming, membuktikan keterbatasan lahan bukan penghalang inovasi lingkungan.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Makassar.
Inisiasi Program Dan Pembentukan BSU SABAR
Muchlis Kartala menginisiasi program pengelolaan sampah terpadu ini dengan visi mengubah limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Program ini dirancang untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga, dan memanfaatkannya secara maksimal. Ide ini lahir dari keprihatinan terhadap volume sampah yang terus meningkat di wilayah perkotaan.
Bersama warga, Muchlis kemudian membentuk Bank Sampah Unit (BSU) SABAR, singkatan dari Sampah Bisa Jadi Berkah. Bank sampah ini dikelola secara berkelompok oleh warga setempat, menunjukkan semangat kolaborasi dan partisipasi aktif masyarakat. “Semua yang terlibat adalah warga di lingkungan ini,” ujar Muchlis, menegaskan bahwa program ini adalah milik bersama.
Sebagai langkah awal, BSU SABAR menempatkan keranjang sampah di beberapa lorong strategis. Saat ini, dua keranjang sampah telah terpasang di Lorong Panti Asuhan dan Lorong Skarda N Lorong 1. Keranjang berukuran sekitar 60 x 70 sentimeter tersebut dikhususkan untuk menampung sampah anorganik seperti plastik dan kemasan sekali pakai.
Fokus Awal Pada Sampah Anorganik Dan Rencana Organik
Muchlis menjelaskan bahwa pada tahap awal, fokus utama program adalah pengelolaan sampah anorganik. “Sementara kita mulai dari sampah anorganik dulu. Ini yang paling mudah dipilah dan langsung terlihat hasilnya,” katanya. Pemilahan sampah anorganik dianggap sebagai langkah paling mudah untuk memulai dan menunjukkan dampak positif secara cepat kepada warga.
Adapun pengelolaan sampah organik masih dalam tahap perencanaan yang matang. Sampah jenis ini nantinya akan diolah menjadi pupuk dan media tanam yang terintegrasi dengan konsep urban farming. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam pengelolaan limbah, di mana setiap jenis sampah memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
Ke depan, Muchlis merencanakan pengelolaan sampah organik melalui beberapa metode inovatif. “Sampah organik ke depan akan kami kelola lewat biopori, kompos, dan budidaya magot,” ujarnya. Rencana ini menunjukkan komitmen untuk mengolah sampah organik secara efektif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung kegiatan pertanian perkotaan.
Baca Juga: Polisi Usut Paris Yasir Dalam Kasus Korupsi Proyek Pasar Lassang-Lassang
Edukasi Dan Antusiasme Warga
Saat ini, fokus utama pengelola BSU SABAR adalah edukasi warga mengenai pentingnya pemilahan sampah. Sosialisasi dilakukan secara langsung dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan penjelasan detail. Pendekatan personal ini dinilai efektif untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat.
Selain kunjungan langsung, sosialisasi juga dilakukan melalui grup WhatsApp. “Kami datang ke rumah-rumah warga untuk menjelaskan langsung. Selain itu, kami juga punya grup RW untuk sosialisasi rutin,” jelas Muchlis. Pemanfaatan teknologi ini membantu menyebarkan informasi secara lebih luas dan konsisten kepada seluruh warga.
Antusiasme warga terhadap program ini cukup tinggi. “Warga senang karena sekarang sudah ada tempat khusus. Ini memudahkan mereka untuk disiplin memilah sampah,” kata Muchlis. Kesadaran dan partisipasi aktif warga menjadi kunci keberhasilan program ini, menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pembiayaan Mandiri Dan Harapan Dukungan Pemerintah
Seluruh pembiayaan program inovatif ini masih menggunakan dana pribadi Muchlis Kartala. Ia mengungkapkan bahwa anggaran yang digunakan untuk membuat keranjang sampah telah mencapai jutaan rupiah. “Tapi yang saya gunakan sekarang ini sebagian besar dari sisa renovasi rumah saya,” ujarnya, menunjukkan dedikasi personalnya.
Meskipun demikian, Muchlis berharap pemerintah dapat terus mendukung program ini di masa mendatang. Salah satu harapan utamanya adalah bantuan dalam memperbanyak keranjang sampah agar program bisa menjangkau lebih banyak wilayah. Dukungan pemerintah akan sangat membantu dalam skala pengembangan dan keberlanjutan inisiatif ini.
Ke depan, sampah anorganik yang terkumpul masih ditimbang secara kasar. Namun, Muchlis memiliki visi untuk pengelolaan lanjutan yang lebih terintegrasi. “Ke depan, pengelolaan lanjutan akan dilakukan daur ulang yang terintegrasi di tingkat kelurahan,” imbuhnya. Ini menunjukkan ambisi untuk memperluas dampak positif program ke skala yang lebih besar.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Makassar kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Makassar.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari makassar.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari youtube.com