Makassar bersama Gowa dan Maros meluncurkan PSEL untuk mengubah sampah menjadi listrik sekaligus mengatasi krisis lingkungan.
Kota Makassar mencatat langkah baru dalam menangani masalah sampah bersama dua kabupaten tetangganya, Gowa dan Maros. Untuk mengatasi timbulan sampah yang terus meningkat, pemerintah menandatangani kerja sama PSEL berbasis aglomerasi agar solusi lebih efektif dan terintegrasi antarwilayah di kawasan Mamminasata.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Makassar.
Gowa, Makassar, Maros Bersatu Atasi Sampah
Penandatanganan kerja sama ini dilakukan Wali Kota Makassar bersama Bupati Gowa dan Maros, disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, pada 4 April 2026. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan proyek PSEL yang dinanti masyarakat.
Model kerja sama aglomerasi dirancang agar pengelolaan sampah tidak diselesaikan secara parsial, melainkan melalui integrasi sistem yang memaksimalkan potensi timbulan sampah dari tiga wilayah. Pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi tantangan volume sampah yang semakin tinggi serta memenuhi standar teknis pengolahan.
Lebih dari sekadar kerjasama administratif, kolaborasi ini juga mencerminkan komitmen bersama untuk mendukung program nasional waste to energy, menjadikan sampah bukan lagi beban, tetapi sumber energi listrik yang potensial.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kapasitas dan Manfaat Teknologi PSEL Bagi Makassar
Menurut data resmi, Kota Makassar menghasilkan sekitar 800 ton sampah setiap hari, tetapi saat ini hanya sekitar 67% yang bisa diangkut. Dengan tambahan pasokan dari Kabupaten Gowa sekitar 150 ton per hari dan Maros sekitar 50 ton per hari, fasilitas PSEL diperkirakan mampu mengolah total sekitar 1.000 ton sampah setiap hari.
Target produksi energi listrik dari PSEL diperkirakan mencapai 20–25 Megawatt, tergantung pada kualitas sampah yang masuk. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, juga menegaskan bahwa teknologi yang dipilih telah melalui uji kelayakan sehingga risiko pencemaran lingkungan dapat diminimalkan, serta fasilitas ini dibuat sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
Baca Juga: Geger! Jukir Liar di Makassar Marah ke Pemobil, Hanya Diberi Rp 2.000!
Tantangan Pengelolaan Sampah dan Transformasi Sistem
Seiring pertumbuhan populasi, persoalan sampah di Makassar terus meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap lingkungan serta kesehatan publik. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti Tamangapa kini semakin penuh, sehingga dibutuhkan solusi jangka panjang yang tepat.
Sebelumnya, proyek PSEL sempat mengalami keterlambatan karena masih menunggu regulasi baru dari pemerintah pusat. Selain itu, berbagai kajian teknis dan lingkungan harus dipenuhi sebelum pelaksanaan fisik dapat dimulai.
Selain itu, pemerintah daerah pernah menegaskan tidak akan melanjutkan proyek jika belum ada jaminan keberlanjutan lingkungan dan kepastian hukum. Hal ini menunjukkan bahwa aspek sosial‑lingkungan menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan proyek ini.
Integrasi Sistem Persampahan, Dari Hulu ke Hilir
Kolaborasi aglomerasi ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah secara menyeluruh. Pemerintah daerah menerapkan pemilahan di sumber, penguatan bank sampah, dan teknologi pengolahan organik seperti kompos serta maggot.
Transisi dari metode open dumping ke sanitary landfill juga menjadi fokus utama. Hal ini agar setiap proses pengelolaan limbah dapat berjalan secara higienis dan ramah lingkungan. Perubahan ini penting untuk memastikan tidak hanya pengurangan sampah, tetapi juga kualitas lingkungan yang lebih baik.
Langkah‑langkah ini menunjukkan bahwa solusi krisis sampah Makassar tidak hanya bergantung pada teknologi PSEL semata. Tetapi juga pada transformasi cara pandang serta praktik masyarakat dalam mengelola sampah dari awal sampai akhir.
Dengan langkah aglomerasi yang inovatif ini, Makassar bersama Gowa dan Maros menunjukkan bahwa masalah lingkungan bisa ditangani melalui kolaborasi. Teknologi tepat guna dan komitmen kuat lintas wilayah menjadi kuncinya. Semoga langkah ini menjadi contoh bagi kota lain di Indonesia dalam mengatasi persoalan sampah secara efektif dan berkelanjutan.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Makassar kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Makassar.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kabarmakassar.com
- Gambar Kedua dari kabarmakassar.com