Teror Geng Motor OTK di Kampus Makassar, Polisi Didesak Bertindak Tegas mengangkat isu mengkhawatirkan tentang maraknya aksi brutal geng motor dan orang tak dikenal.

Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Info Kejadian Makassar.
Aksi Provokatif OTK di Lingkungan Akademik
Kelompok OTK ini memasuki lingkungan kampus, menyebarkan ketakutan dengan memasang spanduk provokatif di fly over Jalan AP Pettarani tepat di atas Pos Lantas dan di dalam kampus.
Mereka mengendarai motor dalam konvoi sembari meneriakkan ajakan konfrontasi. Setidaknya lima kampus menjadi sasaran mereka. Dengan aksi direkam oleh mahasiswa dan viral di media sosial.
Pengamat hukum pidana dari UIN Alauddin Makassar, Rahman Syamsuddin, menyoroti bahwa ketegasan Kapolrestabes Makassar sangat dibutuhkan untuk meredam ancaman ini. Menurutnya, pelaku merasa bebas bertindak karena minimnya tindakan tegas dari aparat. Dan hal ini terus berulang karena tidak ada konsekuensi nyata terhadap pelaku.
Perlahan Meningkatnya Teror di Kampus
Sejak akhir Juni hingga Juli 2025, Kota Makassar menghadapi gelombang kekerasan dari geng motor dan kelompok OTK (Orang Tak Dikenal) yang menyasar lingkungan kampus.
Aksi-aksi ini tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga merambah ke dalam kampus dengan aksi provokatif seperti konvoi, pemasangan spanduk “Undangan Perang Terbuka”, serta teriakan ajakan konfrontasi di area kampus seperti Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh).
Baca Juga: Unhas Makassar Mulai Proses Pemilihan Rektor Untuk Periode 2026-2030
Motif Kekerasan Geng Motor

Data Polrestabes Makassar menunjukkan bahwa pelaku kebanyakan berstatus pelajar, mahasiswa, dan bahkan guru honorer. Sebanyak 24 anggota geng motor diamankan pada Minggu dini hari 1 Juni 2025 di Jalan Skarda, Rappocini.
Mereka ditangkap karena sering melakukan penyerangan ke pemukiman warga dan tempat ibadah. Polisi menemukan senjata tajam seperti parang, panah busur, serta menyebut bahwa mereka sempat menyewa mobil untuk menyimpan senjata guna mengelabui petugas.
Pola kekerasan ini terjadi pada awal Januari 2025 (11 Jan), saat tawuran geng motor di Rappocini yang mengakibatkan dua remaja luka parah dan penangkapan enam orang. Polisi mengamankan ketapel, anak panah busur, serta beberapa sepeda motor sebagai bukti.
Desakan Langkah Tegas Aparat
Mereka yang ikut berbicara mendesak tindakan tegas dari kepolisian:
- Rahman Syamsuddin, akademisi hukum pidana asal UIN Alauddin Makassar, menyatakan pelaku tidak merasa takut karena tidak ada hambatan hukum, dan meminta Kapolrestabes maupun Kapolda Sulsel untuk mengambil alih jika penanganan tidak berjalan.
- Megawati, aktivis dari Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel, menghimbau keterlibatan semua pemangku kepentingan seperti keluarga dan sekolah. Ia menyoroti pentingnya pola asuh dan pendidikan karakter untuk menangkal kecenderungan kekerasan pada pelajar yang ikut geng motor.
Kesimpulan
Geng motor dan OTK yang melancarkan teror di kampus Makassar bukan hanya soal kekerasan jalanan, melainkan sebuah fenomena serius yang merusak rasa aman di lingkungan akademik. Banyak pelaku masih berstatus pelajar atau mahasiswa, yang semakin memperlihatkan lemahnya filter sosial dan hukum.
Desakan terhadap polisi untuk bertindak tegas bukan tanpa alasan kepemimpinan hukum perlu hadir di depan secara konkret dan serius. Tanpa tindakan nyata yang berkesinambungan, ruang–ruang pendidikan di Makassar akan terus menjadi target teror, bukan tempat berkembangnya intelektual dan kreativitas generasi muda.
Untuk informasi terkini dan lengkap mengenai berbagai kejadian penting di Makassar. Termasuk insiden keamanan dan bencana alam. Kalian bisa kunjungi Info Kejadian Makassar sekarang juga.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari www.antarafoto.com